Kapan kita harus berdoa ?

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hai teman, bahasan pada Ruang santri kali ini mengenai doa, kita baca ayat di bawah ini ya,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Surah al-Baqarah: 186}

Asbabun-Nuzul

Menurut riwayat Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abu Syaih, dan lain-lain disebutkan bahwa ayat ini turun bertepatan dengan datangnya seorang A’rabi (badui) kepada Rasulullah saw yang mengajukan pertanyan,

“Wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita itu dekat sehingga kami dapat mengajukan permohonan kepada-Nya? Atau Tuhan itu jauh, sehingga kami harus berdoa dengan suara keras kepada-Nya?”

Mendengar pertanyaan ini Rasulullah saw terdiam, sampai kemudian turunlah ayat ini sebagai jawabannya. Di samping itu, tentu saja memberi penjelasan dan petunjuk kepada segenap kaum Muslimin yang ingin berdoa kepada Allah Swt.

Ibnu Jarir juga meriwayatkan tentang hal yang sama melalui jalan yang berbeda, yaitu Atha bin Abi Rabah. Menurut riwayat ini bahwa setelah ayat ke-60 dari surat Al-Mukmin yang berbunyi Wa qaala rabbukum ud’uunii astajib lakum (Dan Tuhanmu berkata: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan (doa)-mu” diturunkan, para sahabat Nabi saw tidak mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk berdoa kepada Allah Swt. Sehubungan dengan itulah Allah menurunkan ayat ke-186 surat al-Baqarah di atas yang pada dasarnya menegaskan tentang cara berdoa kepada-Nya.

Selain kedua riwayat di atas, masih ada beberapa riwayat yang lain. Salah satunya menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan pada saat terjadi perang Khaibar. Dikisahkan bahwa pada peperangan itu kaum Muslimin berdoa dengan suara yang amat keras, laksana orang yang berteriak-teriak. Rasulullah menegur mereka seraya bersabda, “Kendalikan diri kalian, sebab kalian tidak berseru kepada orang yang tuli dan yang ghaib.” (Tafsir Al-Manar jilid 2)

(Dikutip dari Suara Hidayatullah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: