Bahasa Hati

Oleh: Zetha

hai dear…..

Salah satu instrumen manusia mencari kebenaran adalah hati. Hati sebagai salah satu instrumen bersifat halus, intuitif, pure, dan tidak pernah berbohong.

Suatu ketika seorang sahabat Wabishoh Bin Ma’abad menemui Rasulullah menanyakan tentang hakikat kebaikan. Sebelum sahabat ini bertanya, Rasulullah sudah mengetahui maksudnya, Rasulullah bertanya: ”Engkau bertanya tentang kebaikan? Maka tanyakanlah kepada dirimu (hatimu).” (Hadits Bukhori)

Hadits ini memberikan isyarat naluri manusia yang mempunyai modal dasar kebaikan, dan sekaligus pembeda antara manusia dengan makhluk lain. Manusia yang selalu menjaga fitrah ke- manusiaannya akan menjadi manusia yang manusiawi. Tapi bila tidak niscaya manusia yang bisu, tuli dan buta (Al-Baqorah: 17).

Dalam suatu ayat Allah berkata: ”Maka luruskanlah (hadapkanlah) wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar-Rum: 30).

Interpretasi yang dapat kita tangkap dalam surat ini adalah bahwa Allah mewariskan kecenderungan hati manusia pada kebaikan. Kecenderungan ini adalah lintas personal, untuk siapa pun.

Hati adalah muara kebaikan yang selalu mengalirkan air kedamaian. Manusialah yang telah mencemari hati mereka dengan sampah ke- sombongan dan limbah ketamakan. Bagi pribadi yang hatinya keruh dan jauh dari tuntunan Allah, kecelakaanlah, karena kontrol hatinya semakin lama semakin lemah, dan kehalusan pesan hati semakin ter- kesampingkan.

Lebih jauh tentang makna hati, Rasulullah bersabda: ”Ingatlah … Sesungguhnya pada jasadmu ada segumpal daging. Apabila dia baik maka baik pula seluruhnya, dan apabila dia rusak maka rusak pulalah seluruhnya. Ketahuilah … Itulah hati.” (Hadits Bukhori).

Dalam kerajaan tubuh manusia, hati adalah maharaja yang bijak yang mengayomi secara naluri Robbani. Keputusan hukum hati tidak memihak kepada siapapun, dan pesan hati adalah pesan Tuhan.

Allah berfirman: ”Wahai jiwa yang tenang (suci). Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi. Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hambaku. Dan masuklah kamu kedalam surgaku.” (Al-Fajr: 27-30).

Akhir perjalanan panjang seorang yang berhati suci adalah khusnul khotimah (baik penghujung) menghadap sang Kholik dengan penuh cinta dan kedamaian. Semoga …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: