Kubuka Pintu Maafku

Enha EshadeAntrean panjang ini begitu menjemukan. Bayangkan! Satu jam lebih aku terduduk di bangku panjang ini menunggu giliran. Tapi ada yang lebih membuatku pengin segera beranjak, yaitu pancaran wajah kuyu dan lesu di depan mataku. Uh, aku jadi terbawa! Terlebih lagi suasana makin muram oleh hujan. Dan sore yang basah ini tambah menggigil oleh embusan angin pegunungan.

ada parau, kering, dan berat seketika menyentak keheningan. Reflek mataku menyelidik ke sumber suara itu. Di pojok ruangan seorang ibu separo baya tengah membekap mulutnya dengan kedua tangan. Kepalanya sedikit menunduk, mencoba menahan batuknya. Tak urung juga, desakan dari dadanya terlalu kuat memaksa lepas. Mendengar suara batuknya, dadaku jadi ikutan sakit sendiri. Kasihan, pikirku!

Entah mengapa, sejak aku sekilas memandang ke arah ibu tadi, ada rasa tidak asing. Semacam rasa pernah kenal atau pernah melihat. Maka, aku jadi makin memperhatikannya. Tanpa melepas pandang, pikiranku kuperas untuk mengingat sesuatu. Di mana aku pernah kenal dan kapan? Lama, tak kutemukan jawabannya. Akhirnya aku berkesimpulan mungkin cuma sekadar mirip.

Seraut wajah bergaris keras. Tulang pipinya sedikit menonjol. Sorot mata tajam. Garis bibir agak tertarik ke atas. Kesan keseluruhan menyiratkan impresi kurang ramah. Makin kutatap makin kental rasa perih mengaduk perasaanku. Aku tak tahu pasti, hanya seperti luka dari masa lalu. Ah, pedih sekali. Desiran perasaan aneh ini coba kuusir. Barangkali saja aku terlalu banyak imajinasi. Maka, pandang mataku kualihkan kepada seorang gadis kecil yang menggelendot manja di dada ibunya.

Satu demi satu pasien berlalu. Ruang tunggu berangsur lengang. Toh, aku tak kuasa mengusir penasaranku. Masih memenuhi pikiranku, siapa ibu itu? Tapi, siapa pun dia aku telanjur yakin bahwa pada suatu masa aku pernah mengenalnya. Maka, ketika kutahu tempat duduknya agak kosong, tak mampu lagi kucegah kakiku melangkah menghampirinya.

” Permisi, Bu!” sapaku, menarik perhatiannya. Dengan nafas berat naik-turun, ia bergeser memberiku tempat duduk. Ibu itu menatapku, tersenyum tipis.

” Sendirian, rupanya,” kucoba memecahkan kebekuan.

“Ya, begitulah. Habis dengan siapa lagi, Nak?” jawabnya datar, tapi air mukanya menggambarkan kesedihan. “Sudah biasa, kok. Saudara semuanya jauh, sedang yang dekat repot dengan urusannya masing-masing. Ada sih keponakan, barusan dia yang mengantar Ibu ke mari. Tapi katanya kelamaan kalau dia mesti menunggu sampai selasai.”

“Selalu periksa ke sini, Bu?”

“Ya, mengontrol kadar gula.Belakangan ini kepala Ibu sering pusing-pusing. Malah, batuk ini rasanya makin parah saja,” katanya, sambil merapatkan ujung jaketnya. “Maklum, Nak, sudah tua,” tambahnya kemudian. Aku mengangguk mengerti.

Percakapan bernada basa-basi menggelinding begitusaja. Heran, ada saja sesuatu yang bisa dijadikan bahan obrolan. Padahal jarang sekali aku bisa begini akrab dengan orang baru dikenal. Mungkin karena aku merasa iba dengan kesendiriannya. Atau karena aku tengah menyibak jati dirinya?

“Rumah kamu di sekitar sini, Nak?”

“Benar, Bu. Di Jalan Ahmad Dahlan.”

“Dekat dengan TK Aisyiyah?”

“Masih masuk lagi, sekitar delapan ratusan meter. Ibu sering mengantar cucu ke sana, barangkali?” tebakku langsung. Lumayan lama tak kudengar jawaban keluar dari mulutnya.

“Cucu Ibu jauh, di luar Jawa semua,” lanjutnya setengah bergumam, seperti ditujukan untuk dirinya sendiri. “Kadang-kadang Ibu merasa sepi yang amat sepi. Sendiri di masa tua, tanpa anak-cucu, amat menyakitkan!” suaranya lirih, bergetar menahan emosi. Beberapa detik kami terdiam. Aku menyesali pertanyaanku.

“Ibu pernah menjadi guru di sana “, katanya kemudian, nada suaranya lebih lunak.

Tak pelak, kalimat inilah jawaban semua pertanyaanku. Aku terhenyak sesaat. Ada rasa perih mengiris hati. Kenyataan ibu itu menjadi perekat atas penggalan kenangan dalam ingatanku. Suatu peristiwa masa lalu dipertemukan maknanya dengan perasaan pernah kenal. Aku terdiam, tak mampu berbuat apa-apa kecuali merekonstruksi masa silam. Kubayangkan ia kujumpai di suatu kehidupan lain. Dua puluh tahun lalu.

Pagi itu aku tergopoh-gopoh mendekati ayunan. Sengaja aku datang pagi biar bisa menaikinya.

Kulihat baru beberapa teman yang datang. Dengan semangat kujejakkan kakiku untuk mendorong ayunan itu supaya tinggi. Di tengah keasyikanku, ia muncul menggandeng Vita yang menangis. Ia menyuruhku berhenti, menurunkanku, dan mendudukkan Vita di atas ayunan. Dalam sekejap tangis Vita berhenti. Ia tersenyum, begitu pun mamanya. Aku pandangi mereka dengan mata nanar. Ingin aku menangis, tapi tidak ada yang bisa membela hakku.

Di antara teman-teman, memang hanya aku yang tidak pernah rewel minta ditunggui Ibu. Dengan logika anak-anak, waktu itu aku sudah mampu memahami keadaan Ibu yang repot mengurus adikku. Ditambah lagi kondisi ekonomi keluargaku tak cukup mapan. Inikah sebabnya aku selalu kalah dan dikalahkan?.

“Jam berapa, Nak?” tanyanya mengagetkanku. Aku sempat agak bingung beberapa saat.

“Jam lima seperempat,” jawabku, singkat.

“Sudah hampir Maghrib,” katanya lagi. Kudengar ia menghela napas panjang. Ia tampak sangat lelah.

Kembali aku tertepekur. Kenangan masih kecil kembali menghampiri ingatanku.Kini jelas sekali tergambar di depan mataku peristiwa karnaval itu. Ah, hatiku terasa makin pedih. Besok adalah hari karnaval dalam rangka hari anak, katanya, menjelaskan di depan kelas. Kami bersorak kegirangan. Aku katakan pada Dewi, aku mau berpakaian ala pilot. Dewi tidak mau ketinggalan, ia bilang ia ingin jadi astronaut. Lalu Dodi menyela, membanggakan dirinya berpakaian ala dokter. Tapi karena karnaval itu dilombakan, Bu Guru sudah menentukan jenis pakain yang harus kami kenakan. Ia membagikan kertas kecil bertuliskan satu gaya busana. Aku tidak bisa baca, namun aku menerimanya dengan senang hati seperti teman-teman lain.

Aku baru kecewa ketika Ibu membacakannya untukku. Petani? Aku tidak mau berpakaian petani. Aku mau berbusana dokter seperti Agung atau Dodi, atau polwan seperti Intan atau penari Bali seperti Mely, atau…

“Sebentar lagi giliranmu, Nak,” katanya tiba-tiba, menarikku ke alam nyata. Aku tidak menanggapinya. Kupandang kedua matanya sekilas. Ada rasa bimbang menyelimuti perasaanku. Di satu sisi aku benci karena ia tidak memperlakukan aku seperti ia memperlakukan Agung, Vita,Intan, atau Mely, yang kuanggap anak orang kaya. Apalagi perasaan tersisih itu kadang-kadang masih menghantuiku, sampai saat ini. Namun, di sisi lain kesendiriannya membuatku jatuh iba. Cukup lama aku termangu.

Pintu kamar periksa bergerak terbuka, pertanda giliran berikutnya masuk. Bersamaan dengan itu batuknya pecah lagi. Ini semakin memperkuat niatku.

“Silakan Ibu duluan!”Akhirnya aku mengalahkan egoku. Bisa kurasakan wajah keriput itu mengekspresikan rasa heran. Kuanggukan kepala dalam-dalam, sebagai isyarat bahwa tawaranku sungguh-sungguh. Ia melangkah ragu-ragu menuju kamar periksa. Sebelum seluruh tubuhnya masuk, sekali lagi ia menoleh kepadaku.

Hujan telah sempurna reda. Kuayun langkahku meninggalkan tempat praktik Dokter Arifin dengan perasaan lega luar biasa. Ada rasa plong menghinggapiku kini, entah atas sebab apa.

Kusapukan pandangan ke arah kerumunan orang di sana. Aku berusaha menemukan seseorang. Nah itu dia, berdiri agak jauh dari kerumunan kecil itu. Mungkin ia sedang menunggu andong yang akan mengantarnya pulang. Malam begini biasanya agak susah.

“Mari saya antar, Bu!” kataku, mempersilakannya. Ia tidak cepat mengiyakan. Barangkali ia kurang percaya pada kebaikanku yang tiba-tiba ia terima untuk kedua kalinya. Pelan ia mendekatiku, lalu dengan kaku membonceng di atas sepeda motor bututku. Kami pun melaju dengan kecepatan sedang.

“Perempatan depan belok kanan, gang ketiga.Ya, rumah kedua berpagar biru!”

“Di sini, Bu?”

“Yak, di sini, nah cukup. Aduh, terima kasih sekali, Nak…”

“Utami, Bu.”

“Utami?” ia seperti berusaha mengingat sesuatu sambil mengeja namaku.

“Terlalu banyak orang bernama Utami, Bu,” timpalku cepat.

“Ya, banyak memang, tapi…”

“Sudah malam, Bu.”

“Eh, sebentar. Apa tidak sebaiknya mampir dulu?”

“Insya Allah, lain kali, Bu.”

“Lho, kok begitu?”

“Bu Sri,” nada suaraku menggantung.

“Nak kenal Ibu?”

“Saya murid Ibu di TK dulu.”

“Murid TK?…U…ta…mi!”

Masih dalam keterpakuan, kujabat erat tangannya. Sebelum berlalu kuucapkan salam untuknya. Aku tinggalkan ia sebelum menyadari sepenuhnya yang barusan terjadi. Namun, beberapa saat kemudian aku dengar teriakannya.

“Terima kasih, Nak Utami!”

Aku tersenyum sendiri. Suasana hatiku begitu damai. Di tengah jalan aku melagukan, bergumam kukira lebih tepat, sepenggal bait Ebit G. Ade. Ah, kenapa baru kupahami maknanya sekarang? Padahal bait ini sering kusenandungkan.

Ada yang mesti kupikir lagi

melepas dendam dan sakit hati

Dan berjuang membendung benci

Tuhan, jagalah tanganku ini…

Solo, 240599

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: